Posts

Showing posts from 2019

Rinduku Tak Bertuan

Pagi ini, dingin mendominasi Mengiring ku kembali Rumah, lama kutinggal Dengan segenap rencana yang kuhimpun Ku ingin kembali, untuk menyusun Kutarik nafasku dalam-dalam Seketika, semerbak wangi datang Bukan pada rongga pernafasan, Muncul dari ingatan, terngiang Wangi yang tak asing, namun tak kukenali Saat mulai sayup ternampak Yang kutahu, rinduku juga ingin berpulang Namun sekali lagi tak bertuan Semarang, 20 Desember 2019

Masih Aku dan Sajakku yang Dulu

Aku masih tetaplah aku Tak berubah bahkan jika ada kamu terselip diantara sajakku Sajakku yang bermula dari sebuah kebuntuan Yang tersemat pada kata, yang perkatanya menyambut sekembalinya Yang terpisah diantara ruang kosong pada setiap jeda Kadang, koma menghentikan barang sesaat pada kalimat tentang cerita Namun tetap saja berakhir pada gelapnya titik di akhir pemenggalan Walau diksi telah kupilah Agar bentuk terkesan indah Namun sama saja, makna masih mengandung sedikit didih darah Sebagaimanapun rima berusaha disamakan Tetap saja terlalu dipaksakan Karena sajak tak harus sama Sajak perlu rima yang berbeda Dan akan terus berbeda hingga bait terakhir menutup cerita Semarang, 16 Desember 2019

Masuk Dalam Pertimbangan

Sebuah lubang sedikit menganga Muncul memberi ruang cahaya untuk melalui, kecil Sangat kecil menampakkan Hingga nyaris tak terlihat Tak bisa dianggap lubang jika hanya kecil Bahkan kain yang rapat pun ternyata penuh dengan lubang Tapi ini berbeda Masalah kerapatan kaca sebagai kiblatnya Dengan satu lubang kecil seperti di kain sari wanita india Tak terlihat Memang tak terlihat Namun bisa dipertimbangkan bahwa memang ada Tunggu saja saat besar nantinya Mungkin bisa atapun tidak Semarang, 16 Desember 2019

Otakku: Bersahabatlah

Kau terlalu banyak istirahat sampai lupa bagaimana kontraksi, barang sesaat Lokermu terlalu penuh Dibuang? Sayang, atas semua jerih yang pernah diperjuangkan Tahan? Tidak, terlalu penuh untuk diiisi hal baru Otakku, bersahabatlah Aku masih membutuhkanmu Sekedar darah mengalir, jantung berdetak... Aku masih membutuhkanmu! Untuk semua penyelesaian Dan semua yang datang di kemudian Semarang, 10 Desember 2019

Kuatmu di Usia Renta

Keren... Sosok renta itu masih saja tegar Menyimpan semua jerih, perih serta semua yang dirasanya. Sesak! Yang tadinya sempat meronta, mengeluh kesana kemari hingga lupa siapa yang meranakkan Sejujurnya dia hanya sendiri, sebatang kara di bawah langit yang luas Tanpa ada cagak tanpa ada tonggak, sekedar menopang Kini usia semakin renta, namun hatinya semakin kokoh Dia tahu dia bisa, dia faham mengeluh tiada guna, jika bukan untuk sesiapa Entah itu yang sebenarnya terjadi, atau gambarang yang bisa ternampak Tapi itu suatu perubahan besar Berubah dari suatu yang tanpa daya, lemah, atau mungkin sok lemah untuk mengiba Atau benar-benar lemah dan memanfaatkan kelemahannya! Kini sudah bisa tegak Berdiri diatas kaki keduanya yang dimiliki sedari kecil Teruslah begitu hingga apa yang kau sebut kebahagiaan hadir Semarang, 9 Desember 2019

Kupu Tanpa Sayap

Sering, sesering cerita itu bersautan Tanpa henti tanpa pula mati Setiap huruf berjajar, rapi, membentuk pasukan paragraf Cerita tentang ulat yang bukan siapa-siapa Dengan ejekan pada setiap temunya Menjadi kepompong, diam, tanpa sedikitpun bergerak Tanpa sedikitpun berteriak, bahkan bisikpun tak nampak Hingga kupu-kupu yang indah Dengan sayap bermotif lurik Cerita itu tak bertahan lama, kasihan Sayapnya terlalu rapuh, gambaran mulai berpudaran Dan hancurnya, tak akan kembali tumbuh mendarma Semarang, 6 Desember 2019

Tanyaku Padamu

Tanyaku padamu, pada lentik di ujung mata Tentang mulainya waktu tercipta, yang entah sampai kapan berakhirnya Tentang sungai yang jernihnya entah terkeruhkan Tanyaku padamu di genggaman Tentang adanya ketiadaan Tentang nyatanya kepalsuan Tanyaku padamu, pada bibirmu Tentang arti dari sendiri Tentang nyamanmu dari kejauhan Tentang semua hal yang pernah hinggap dan ingin berpulang Semarang, 2 Desember 2019

Bait Perpisahan

Dari sedikit demi sedikit cerita Yang dituang kedalam gelas pengikat Mengurung semua perbedaan persepsi Mengharuskan semua kepala saling memahami Diaduk terus diaduk Agar semua yang berbeda, menyatu Menjadi kesatuan rasa, tanpa beda Se-iya sekata seriring serta sejalan Hari demi hari, sepah telah dinikmati Kelebihan dan kekurangan saling dileburkan, memunculkan rasa baru Disesap sedikit demi sedikit Agar pahit tak langsung merasuki Dan terus dapat dinikmati Cerita beberapa hari yang lalu, dan kini berlalu Semua itu tinggal residu yang mengendap Semua rasa yang tak bisa diulang kembali Seberapa pun kehangatan temu berusaha menyeduh, Kembalinya, tak kan mampu Tapi yakinlah, residu itu masih menyimpan wangi setiap memori Yang nanti akan hanya bisa diceritakan Dalam kembalinya pertemuan Pada waktu yang entah kapan Posko 78 Desa Rembes, Kec. Bringin, Kab. Semarang KKN UIN WS, 20 November 2019 Malam Kepergian Untuk Kembali

Malfungsi Kehidupan

Pagi mulai menepi, pada waktu yang dini Katanya tanggal sudah berubah Namun gelapnya tak kunjung enyah Esok akan ada jadwal lain Dan kedua kelopak tak kunjung terjalin Dia berusaha pergi dari kesadaran, memenuhi lelap Dia tak mampu Dia masih terus terjaga Melihat semua yang dia bisa Melihat dirinya yang tak berguna Semarang, 11 November 2019

Sekedar Sapaan

Seakan langit mengajak bercanda Sedari tadi menyapa, dengan gunturnya Melihatkan penuh murung, kelabu Hanya sampai situ Tak ada tindaka, barang selangkah lagi Padahal telah banyak yg berharap Meronta di antara rekahan tanah Mengirim pesan pada langit Berharap air turun merintik Tak ada balasan Hanya gemuruh dan angin yang riuh Dan langit biru Mengakhiri percakapan penuh harap, berbalas basa-basi Kab. Semarang, 10 November 2019 Rembes H-11 penarikan KKN

Di Pagi yang Sama

Masih di pagi yang sama Dengan sedikit embun di ketiak dedaunan Tak banyak berbeda memang Matahari masih menyapa di timur Langit masih biru Kicau burung masih beriringan Dengan sedikit raungan mesin kendaraan, memberi balas Masih di pagi yang sama Tak banyak yang bisa dilakukan Dengan usaha sedikit, untuk melangkah Berhenti, Menatap ke atas Dan tentang kamu, seketika masih terlintas Semarang, 6 November 2019

Terbuang

Sebuah hutan tiba-tiba muncul di pelataran. Dari balik jendela, semua rumah telah hilang, hanya barisan pepohonan yang terlihat. Dela hanya bisa terbelalak melihat semua kenyataan itu. Dia tak menyangka kalau tempat yang dia tinggali akan berubah.   Dia terbangun, memanggil ibunya namun tak ada jawaban sama sekali. Dengan bekal kebingungannya dia berjalan ke sertiap sudut rumahnya, menyisir seluruh tempat yang bisa dia gapai. Ruang tengah, kamar-kamar, dapur, ruang bawah tanah, balkon, siapapun tak ada di sana. Dia berjalan keluar, memanggil siapapun yang dapat dia temui. Tak ada balasan, hanya desir angin dan kesunyian yang membalas sapaannya. Diapun duduk di beranda rumah. Menunggu seseorang datang. Yang entah siapa itu, dengan bermodalkan keyakinan kalau akan ada seseorang yang bakal datang menemuinya. Dia hanya ingat nama dan memori kalau dia memiliki ibu. Namun wajah dan nama ibunya sama sekali tak diingatnya. Dia mau menangis, tapi tak tahu apa yang akan dia...

Jangan Dibaca!

Bisikan angin menyuarakan kebingungan Kian malam, semakin saja dingin ditawarkan Kau sudah terpejam, sedikit bicara dan hilang Aku, masih terjaga Dengan bodohnya merangkai kata Kata dengan sajak tak bermakna Tak berujung Tak menyimpan arti apapun Hanya sebuah sampah adanya Yang tak perlu kau baca Tak perlu juga kau tanya tentang makna Karna tak mungkin ada jawaban, barang sekata Karena kamu, tak bisa kudeskripsikan sekedar dengan bicara KKN 73 POSKO 78 H-31 PENARIKAN

Mengapa Begitu?

Pendidikan memang untuk mendidik Terdidik bukan berarti menjadi cerdik Banyak... Sangat banyak, Status pendidikan, dimanfaatkan Mahasiswa, menjelma dewa Berjalan menantang langit Tak mau merunduk sekedar menyapa orang duduk Sekedar senyum untuk formalitas, kadang enggan terlintas Datang ke desa, bukannya mengabdi Tapi menggurui Sok bijak, padahal bodoh terbalut tamak Merasa serba bisa, padahal tak tahu apa-apa Merasa suci, padahal buruk potensi Sadarlah Jangan membawa tinta pada bejana Jadilah karang Yang tetap menjadi dirimu Tanpa merusak kejernihan sekitar Paling tidak, sedikit menghias Cukupkah? Tidak Jadilah karang tempat berlindung ikan Tempat ikan bertelur Tempat telur menetas Menetaskan benih pembaharu Dan ketika kau berlalu Ada benih baik tentang kisahmu..

Paket Mimpi dan Rindu yang Tak Bertepi

Seketika ngantuk terasa Inginku terlelap, menatap rajutan mimpi, di dalamnya dan tenggelam Hilang sudah arti kata sadar Hanyut pada alam yang berbeda Menyisa raga di atas ranjang Namun nyawa entah kemana dia menghilang Sesaat setelah jauh Raga kembali terjaga Kantukku tak kunjung reda Seakan masih saja menindih, dengan sedikit letih Sama seperti rinduku Telah usaha terobat, dengan temu Bersama tatap dan tangan yang saling menetap Masih saja, rindu tak sedikitpun sirna Purworejo, 4 Oktober 2019

Sebentar Saja

Bisakah kau diam? Barang sebentar Tak lama, Tetaplah tinggal, dan tak meninggalkan Jangan jauh, pun jangan menjauh Diamlah sejenak, barang jarak sejengkal Agar ku tahu, tak sendiri merawat rindu Tak usah berucap ,tak mengapa Dengan adanya kau disini, hadir menemani Tak usah ku bercengkrama dengan sebait sepi Semarang, 18 September 2019

Maafkan Aku Seorang Bajingan

Kau boleh memanggilku apa saja Bajingan, mungkin itu yg kau bayangkan Boleh saja, karena memang aku seperti itu ... Sesukamu, aku tak peduli 'Anjing!' Dengan sedikit geram dan serapah lain Boleh kok kalau memang sangat benci dan ingin memaki ... Aku tak apa Aku tak masalah dengan itu semua Karena ku pernah bertemu Pada halaman kitab 'Kasifatus Saja', di tahun lalu Anjing sangat mulia Mereka lebih sufi dari seorang aku yang hina ini Hanya saja mereka terbalut sampul yang  tak sesempurna manusia ... Silahkan kalau mau memanggilku begitu Doakan saja Agar kudapat mengamalkan kebiasaan mereka Dari kebiasaan baik anjing yang terhina Semarang, 6 September 2019

Peduli Apa?

Peduli ada dengan kata Aku berbuat tinggal berbuat Aku menulis sekedar menulis Kusuka... Itu saja yang kupunya Aku suka menulis, sekedar suka saja Tak peduli dengan apa orang berkata Hanya suka itu saja, untuk saat ini Sama denganmu Tak perlu ada alasan untuk kusuka Untuk sesukaku memandang setiap senti perpindahan Untuk semua yang bisa mataku ambil bayangan Untuk sesukaku pada saat berdampingan Semarang, 6 September 2019

Kamuflase

Asu! Mungkin itu yang akan aku ucapkan Yang akan aku lantangkan, keras Sehingga kau mendengar, pekak Ketika aku tahu apa yang nyata, dari yang terduga ... Namun tidak... Naluriku masih berjalan Naluriku masih normal Naluriku masih dapat mengira yang akan terjadi Pertama kau seolah baik, ternyata picik Kau menangis, nyatanya bengis Berkata selalu saja bersahabat, ternyata menyelengkat Katamu kedepan, jauh Ya jauh Jauh untuk terus menjatuh ... Selamat tinggal! Itu bukan menyuruhmu tetap tinggal Tapi silahkan pergi, Jangan sedikitpun menoleh kembali Semarang, 5 September 2019

'Aku' Merendahkan

Semena-mena menjadi biasa Biasa dilakukan tanpa pertimbangan Tanpa takut balasan akan mengikut ... Sekedar meng-aku Seenaknya kau berlaku Tak lagi berhati-hati, mengerem diri Senaknya memakai, memaksa, merusak dan porak poranda Tanpa takut berdosa ... Maka Tuhan menitipkan, sebagai bekal kehidupan Bukan memberi, agar kau tak sesuka diri ... Apa arti kepemilikan ketika kau merendahkan? Milikku! Punyaku! Milikku! Lantas kau merusak!!! Hingga.... Pantaskah kita berteriak 'Tuhanku!!!'? ... Mungkin begitu alurnya Sedemikian sehingga jalan yang tertawar Belum ada saat untuk memiliki Seperti halnya burung diatas mata angin Agar sayap langkah terbebas menari Kesana kemari, riang Bukan terkekang aturan dan sepetak sungkan Semarang, 3 September 2019

Jejak

Mungkin... Anganku terlalu tinggi Memuncak di ujung ekpetasi Angan yang selalu saja hilang Berbekas pada gubahan Pada lilitan antara prosa Juga bersemayam pada bait aksara Menyisakan sedikit kenang Tentang memori yang pernah lalu lalang ... Kini, maukah kau mengisi? Pada setiap baitku berpuisi Untuk kedepan , bermula sekarang Semarang, 29 Agustus 2019

Bayangan

Aku yang tak bisa melihat Membeda bayang, dan yang terlihat bayangan Semuanya serupa Aku yang tak bisa melihat Hanya terkadang, mereka tampak Meninggalkan jejak Melambai atau sekedar lewat Aku yang tak bisa melihat Buta ketika mata terbuka Buta ketika terjaga Mereka menyapa dari dunia yang berbeda Aku yang tak bisa melihat Hanya merasa, takut dan tertekan Hingga pada mimpi mereka tampakkan Di situ lah jelas gambaran Aku yang tak bisa melihat Gadis itu, sepundak rambut tergerai Dari sudut, mengintip ingin menerkam Kau kenapa? Mengawasi kami yang hanya menumpang Yang hanya sejenak datang

Batasan

Goblok! Lupakah kau membawa manusia? Kau lupa, raga tak sehebat angan Lelap masih kau butuhkan Jangan pula ego ditinggikan ... Malam suruh terjaga Siang bekerja, seakan romusa ... Manusiamu tumbang Sekarang tak bisa lagi bangkit, sekedar menyapa langit ... Akankah cara mengabdimu memutus logika??? Lagi, lagi, dan lagi? ... Manusiamu bukan hanya butuh saat ini Dia butuh esok Bukan untukmu saja Tapi yang menanti juga Semarang, 11 Agustus 2019

Bukan Janji

Seorang bapak sesekali mendogma Dengan apa yang dia punya Dengan pengalaman yang ada, dia bercerita 'Jangan pernah berjanji' Dikata manusia tak tahu esok, Dan Aku mengerti ... Jujur Sebuah tema lain yang diharuskan Jangan pernah berbalik! Jika ingin berkelit, menjadi sebuah masalah lain Berkelitlah! Buat kata yang baik Namun ingat, harus jujur! ... Jujur saja Aku punya sepaket cerita Cerita tentang mencari Dan berujung menemukan Tapi aku tak berjanji untuk mendapatkan ... Tetaplah ada Paling tidak untuk sekarang Esok dan lusa Atau Yakinkan aku untuk melupa jejak, Seraya tinggal Dan tak hilang Semarang, 11 Agustus 2019

Kontras

Semua menyeru tentang-Mu Malam ini, tak sunyi Suara tentang-Mu menggema, beradu Sedari jauh banyak bersautan Ya Jauh... Bukan disini Disini tetap saja sepi Tanpa lalu-lalang kehidupan Semua pintu telah tertutup, berkunci Sembari menunggu malam Menanti pagi Semarang, 11 Agustus 2019

Pemerhati

Aku tak suka dengan sesuatu yang tak kusuka Aku tak suka dengan sesuatu yang kubenci Tak penting memang, terutarakan Karena lebih suka terdiam Diam untuk mendengar Diam untuk melihat Diam untuk merasakan suatu kehadiran Dengan sedikit berkata Menepi disudut buta

Tersesat

Entah kemana angin ini telah membawa Hembusan abstraknya menuntun pergi, tanpa tujuan Menyusur jalan, persimpangan, serta perempatan Lurus, ketika rasa berkata lurus Berbelok, ketika mata yakin untuk berbelok Berhenti ketika tak tahu lagi untuk kembali Jauh... Entah dimana hasrat menculik Kini... Arah pun hilang

Kekacauan

Kata orang langit cerah, untuk sekarang Mataku melihatnya lain Gelap, sorot cahaya sedikit membentuk bercak Siangnya malam, malamnya siang Tak jauh berbeda di keduanya Saling menindih antara ada, Dan semua kemungkinan yang tak akan ada Kalut sudah kotak sadar yang biasa terpakai, Sisakan sedikit makna 'saya' dan kalender untuk lusa Semarang, 4 Agustus 2019

Penting Dimiliki: Apatis

Hujan turun tak memandang orang bebergian Tanpa permisi seenaknya turun, mengguyur Perlukah mengikuti jejaknya? Yang bertindak tinggal bertindak? Kadang sulit... Ketika tak enak dengan orang lain Tapi sebaliknya Mereka seenaknya dengan kita Mengatur setiap langkah Bahkan hingga sudut privasi Dan kebebasan diri Saya adalah saya!!! Bukan budak anda!!! Dan anda siapa? Seenaknya membatasi Boleh saja mengatur, menggurui Ketika ketika sudah berkontribusi Dan menjamin gaji Semarang, 3 Agustus 2019

Meragukan Tuhan

Pernah sekelebat berfikir Bukan tentang sebuah keadaan Namun tentang Tuhan, tentang pemberian Ragu... Satu konsep muncuat Ragu akan pemberian Tuhan Jika memang diberi Mengapa tak kunjung dapat mengendali? Darahku, seenaknya mengalir, lurus Tanpa mau kuperintah bergelombang Atau berombak Lantas, semua tentang 'aku' ini apa???

Detik Eksekusi

Tak ingat kah setahun ada banyak hari di sana? Banyak suka, penuh tawa Kini sehari saja Dalam momen pertama Menaiki podium Diantara banyak mata, mengawasi ingin menerkam Langsung lunglai begitu saja? Demam merajut penuhi pori, menyelimuti Lemah!!! Sudahlah, jalani saja Masalah nyaman, setelah tahu berkenalan Lihat saja nanti Jangan mundur, Atau lebih baik tidur, tanpa kembali bangun! Semarang, 01 Agustus 2019

Permulaan

Dari awal tanpa kejelasan Berlanjut hitungan hari dengan tanpa alur Hanya diam, menghitung kepulangan Tertidur, membuat spasi waktu yang berjalan Tepat hari ini, Akan memulai, menyebut nama Aku bisa! Sepertinya Berdiri dihadapan pandangan Memulai sebuah janji, untuk kedepan Semarang, 30 Juli 2019

Enggan Menepi

Satu, dua dan berhenti pada angka tiga Sebuah angka penunjuk masa, Masa dimana badai membentang Mengombang-ambing bahtera Menghentak layarnya, lantas koyak Pernah sesaat hampir menepi, sekelebat pulau nampak Tak pulalah berlabuh, jarak terlalu jauh Tak berani mengambil resiko Menyianyiakan hidup, demi berenang Tetap menetap, pada kemudi kapal Badai masih belum reda Menghanyut kembali, hingga jauh ketengah Hingga kini Dengan daya melemah

Resonansi

Kecapi mulai dipetik Rangkai suara muncul, harmoni terbentuk Nada yang indah, mengalun Sunyi... Genderang mengambil alih Gaung dan gema, menindih Lenyapkan kecapi Gantikan derap, memekak Kecapi marah, mengeras Genderang diam, terpaku seketika Kecapi lelah Genderang memulai pelan Mengiring nada kecapi yang hampir hilang Semarang, 12 Juli 2019

Pamit

Angin, sampaikan rinduku padanya Dengan desirmu, aku percaya Kau tak akan menghianati, apalagi mencampak janji Katakan padanya Aku kan pergi, tak lama Hanya sebentar, untuk kembali Katakan padanya Jangan pernah menjadi embun pagi Bukan apa Hanya saja, embun hanya sesaat Dan berakhir hilang Saat mentari datang, bersorot terang Semarang, 4 Juli 2019

Sebuah Maksud

Musik masih berderang Mengiring kenyataan 'kau' tak kunjung datang Dengan gelas sebagai saksi, berhias kekosongan Kosong, tanpa apa dan sesiapa Kakiku menghentak Berikan bumi pesan singkat Katakan padanya! Aku adalah aku Tanpa kasih yang perlu kurindu Semarang, 3 Juli 2019

Jangan Melawan

Tekadmu memang besar Dan Tuhan memberikan keleluasaan Inginmu terus sahaja Dan Tuhan memberikan jalan mencapainya Berhentilah naif Tingginya tekad, tak mampu merubah hakekat Tanpa kuasa-Nya Tanpa ijin-Nya Kau hanya sebongkah dahan di atas gelombang Semarang, 21 Juni 2019

Kotaku

Lama, ku tak bersua Sekedar mendaratkan kaki, menyapa debu yang lunglai dijalanan Sekejap, lalu kembali untuk pergi Maafkan aku Sebagai anak daerah Yang tumbuh dengan sari pati tanahmu Belum mengharumkanmu, barang sejengkal Hari ini aku akan pulang Jangan mengharap apapun Aku tak membawa selain bait cerita tentang lelah, dan rasa malu seorang pecundang yang kalah Semarang, 30 Mei 2019

Pohon yang Terlipat

Sebuah kertas yang dibentuk, indah Disusun sedemikian rupa Dengan guratan pena, menguntai kata ditambah taburan kecil pemantul cahaya di situ mencantum harapan, darimu dan dirimu, berinisial ahhh... pohon itu masih saja tersimpan! tak ubah pula, hingga masa terlewatkan Semarang, 8 Februari 2019

Kamu

Tokoh fiksi dalam mimpi yang sebenarnya ada tapi nihil untuk berjumpa ku, kadang mencarimu disetiap album, yang pernah menyatukan mengasih sekedar bahagia angan tapi, semua itu hanya bagian dari  residu Semarang, 26 Feb 2019

Sekilas

Kisah berawal dari pertanyaan tentang sebuah perjalanan dan 'tidak pernah', adalah jawaban yang ku utarakan Berganti hari, datang ajakan pergi pada saatnya tiba senyum itu kulihat, lebih lama dari biasanya dari temu di setiap harinya Cerita bergulir di bawah teriknya siang Kau pun priang, sipu malu  terlintas, sedikit mengambang Senja, berganti petang yang kuingat kala itu yang ada pada tubuhmu balutan kain biru Semarang, 27 Februari 2019

Menangislah sendiri

Image
Tak lagi ingin mendengar keluhan Yang dilantunkan begitu dalam, mendayu Diiringi musik kerongkongan, Sesekali mengisak 'Salahku apa?' , dengan nada sendu Parade cerita basi Menjadikanmu sebagai tokoh yang tersakiti Berusaha mengatur mimik wajah Agar memberi kesan dia yang bersalah Sudahlah, Menangis sajalah sendiri! Saya bukanlah dekomposer, Dari setiap sedih yang orang lain perbuat padamu. Semarang, 4 Februari 2019

Heyyy...

Image
Setidaknya, Ayam masih berani lantang Berkokok di ujung petang Mengepak sayap Dengan penuh wibawa Menyadarkan manusia Yang sedang bermimpi Tanpa nyata terjadi Dan... "Mengapa kau masih menghayal?" Semarang, 2 Februari 2019

Persetan!

Image
Persetan atas semua gelak tawa Atas semua canda Yang berakhir candu Bersisa sendu Persetan untuk awal temu Tatap, saling menatap dan menetap Lalu memutuskan untuk lenyap Persetan tentang usaha datang Bermotif rindu, bartamu Dibalas menjamu Namun berakhir jemu dan akhirnya kau berlalu Semarang, 1 Februari 2019

Cerita Lama

Image
Kian waktu bukannya hilang Masih saja cerita terngiang Dari buku yang telah tiada Dengan cerita yang terhenti ditengahnya Yang sedikit sempat mekar Langsung pergi begitu saja, Terpisah oleh markah

Warta Tanpa Rupa

Sudah beberapa waktu Warta itu sebatas kalimat tersusun Tanpa rupa Tanpa ilustrasi nyata Kalimat demi kalimat Jika dikata rapih, tentu tidak Hanya kalimat tanpa kaidah kebahasaan Hanya senang saja sebagai apresiasi 'ada' Dari gulita, fajar yang terbuka hingga jingganya senja Warta bahagia itu, slalu ku tunggu Semarang, 1 Desember 2019