Posts

Showing posts from July, 2018

Datang dalam Pergi

Jalanan terjal Langit membentang Tingginya gunung menjulang Berjalan Lalui liku Hembus angin menyapa Ada namun tak ada Secercah titik jauh Sebongkah rasa jenuh Terbahak kamuflasekan luka Dalam hitamnya cahaya Gelapnya warna putih Gambarkan didih periuk perih Tak ingin ada Luka terus menganga Teriring roda putar Hingga Jauh Semakin menjauh Hangat mu Dekap ragamu Sudut senyum mu Kurindu Ibu #semarang

Lupa dan Terluka

# Ronta manusia mengancam pencipta Pencipta bersalah! Meluka manusia, dengan takdir kuasa Dengan seenaknya mengganggu cerita rencana Bebas... Jalan kaki ingin bebas! Tanpa belenggu, skenario ketetapan # Tuhan harap harmoni   terjadi! Nyata berbalik! Jahat tangan mencemari, Alam pun ternodai Murkanya... Bergejolak berkata, Memalui serdadu alam patuh-NYA Menggulung pejalan kerusakan # Penguasa memberi Hamba mengingakri Baik terbalas mencekik hingga Murka-Nya terbalas murka Seakan kepercayaan tak lagi ada # Pendosa! Tak ada siksa jika tak dosa tak ada bencana jika tak lupa Haruskah Dia Yang Teradil tersalahkan haus kuasa? #semarang

Sedikit Kenang

Dalam loker ingatan Sebuah bayang samar terlihat Namun jelas hati menggambarkannya Kenangan itu, Dua tahun lalu...    Juli...    Perjalanan singkat yang lama diharapkan    Canda tawa tak seperti biasanya    Dalam satu hari penuh senyummu menemani    Mulai mata terbuka hingga terpejam pada kemudiannya Perjalanan pagi buta Lalu riang pada panasnya kota budaya Cerita yang biasa berpacu jarak Saat itu begitu dekat Sangat dekat    Saat itu pula bahagia meraja    Sebenarnya aku tak merasakan perjalanan    Hanya bahagia dalam kebersamaan    Yang tertuju...    Pada rekah senyummu Senja tiba.. Tak ingatkah engkau saat surutnya mentari? Kita sembari didepan dinding kaca, bersama Menikmati cahaya sisa sang surya Pada hangat tangan mu kala itu Disitu pula,  harapan Ku muarakan    Hari senja menuntut kita kembali    Akan...

Terimakasih

Buah patah kata Untukmu penuh wibawa Dari sebuah perjanjian Berimbas kedisiplinan Langkah demi langkah Walau berat tetap melangkah Pada garis waktu tertentu Terlambat seakan aib bagiku Karena.. Semua berlomba untuk datang dipagi buta Memersiapkan nafas dalam, untuk menyoraki pejuang siang Tak hanya di-anda Berlama-lama mental kami terbentuk juga Begitu saja mengalir Hingga ke pengajar lain Tak sengaja, seolah disiplin Mungkin reflek alam bawah sadar   Atau Mungkin Seleksi alam yang memberikan tuntutan Walaupun Disaat tertentu rasa remeh kadang datang Mengiring pengajar yang gampang Inti yang akan terkatakan Terimakasih bapak, pernah berupaya mengekang. sebab dari itulah, kami belajar komitmen kehidupan. #semarang

Terpaksa

Baik dan terlalu baik, Suatu keadaan semu untuk diungkit Terlalu sama, Untuk divonis berbeda Kini... Pagi terasa senja Diamana mati rasa mekar seenaknya Bagaimana tidak? Dinginnya embun harus ditimbun Tertimbun arsip pendidikan Yang menuntut ketepatan Seperti yang terlihat Seri seri semangat Tergambar jelas pada senyum memelas Baik dan sangat baik Namun belum terbiasa bangkit Yang biasa memerpanjang waktu Herus seketika itu tertuju Bukan sebuah rahasia Sudah pula banyak yang berbicara Bersumber keluh kesah batin Yang bersabda “aku benci hari senin” #semarang

Matinya Perjuangan

Tertatih menempuh waktu,, Yang terjal kian berliku Dengan moral tipis Sebab kepekaan rasa yang terkikis Kemungkinan pasti ada, jikalau pendiri bangsa berduka Melihat hasil tetes darah Diisi dengan derita penuh resah Bukan derita dijajah Namun hanya karena asmara yang pecah Lemah.... Ya.. banyak yang lemah Padamu wahai pejuang bangsa Aku sampaikan, aku bagian  dari kegagalan aku tak sekuat kalian Aku yang sekarang menyerah tanpa perjuangan #Semarang

Rindu Bulan

Seberkas rasa menumpuk begitu saja Tanpa ditata tanpa terikat pula Terbengkalai tanpa tahu harus diapakan Sebenarnya, aku ingin menghilangkan, namun hati mengalami penolakan Bulanku... Yang biasa terangi setiap garis sepi Yang lama ada namun dengan sekejap telah sirna Bulanku... Maafkan aku yang tak bisa memertahankan kilaumu Yang selalu jauh, membuat kau jenuh Bulanku... Dalam rangkai kata tanpa cerita Dalam sajak sederhana tertulis “cinta” Hatiku berkiblat akan hadirmu Tertitik pada detik saat ini juga, kuingin kau ada Bulanku.. maafkan gejolak rasa ku yang saat ini terlalu bersalah mengharapkanmu bulanku.. maafkan aku, yang sedang merindu #Semarang

Metamorfosa Sementara

            Senja yang mulai meyingsir berganti petang. Tak kuasa tuk ingatkan seseorang pemuda dari jerumusan persetan. Dengan jalan yang agak mendoyong terpengaruh minuman keras. Dia pun tertawa sambil lantunkan lagu sumbang tak enak didengar.             Beberapa saat ada seorang nenek renta sedang berjalan membungkuk menyusuri setapak terjal. Pemuda tersebut bertanya dengan tak bertutur kerama “heh bangkai berjalan.. udah tua kenapa masih jalan aja, ganti lah kegiatannya. Nyangkul tanah atau apa biar entar kalau capek terus mati tak usahlah ngerepotin orang buat ngankat-ngangkat, langsung udah nyungsep ke liang kubur. udah aja tinggal kubur”. Sang nenek tersenyum lalu menjawab “jalan nenek masih panjang dan nenek akan menyusurinya sesampai nenek nanti harus berulang”. Leleki itu hanya terdiam mendengar katasang nenek.           ...

Waktu yang Hilang

Sisa debu dalam jejak Sebagai tanda aku pernah beranjak Yang beranjak Lama tak menepi Hanya kedepan Dan menoleh sesekali Targertu menempati waktu Hanya saja...... Jalan terlalu berliku Memang, penampang jalan lebar Apadaya banyak peserta persaingan Saat ingin cepat, penghalang terlalu rapat Saat ingin melambat, pasti tak akan sempat Disini... dalam detik ini,, Kamu lah titik juangku Aku yang jauh dibelakangmu Aku yang terlalu lambat mengejar Namun saat ku datang Waktumu telah menghilang. #Semarang

Usang

Semua ujung terperarah runcing Memancing peranggai hati Dalam rasa mu , masa jauhku Dalam degup aliran nafasku Yang menyatu penuhi harap padamu Sahabat nadiku.. Pagiku terhias manis senyummu Dikala hawa mengikat penuhi hati Kau bersinar datang Kian menghangat hapus embun beku Kalahkan kilau mentari biru Yang biasanya menghanguskan jiwa Membuat hidup terasa binasa Namun takdir menyeru jauh dari masa esok Yang berkata , jauh, jauh dan menjauh Dalam bimbang.. Yang akan menghias perpisahan suatu saat datang Sepi tergali hanyut mendalam Menyekat pandang hidupku nan jauh memuram Sampai jumpa dalam pertemuan singkat ini Teruslah tersenyum,agar dunia tak meredup…. #Santrinya Abah #Wonosobo

Salah menanti

Terbayang ketika itu Aku terdiam, berdiri tegap berdiri. Diam, diam dan tetap diam Hati bertanya “kamu kenapa” Aku tetap diam.... Logika seraya   berkata “ku menanti sesuatu”   Aku menanti senja Aku akan diam Dan Terus menantinya dari pagi buta Hati menimpali Percuma, pergilah, kau lemah Kelemahanmu tak sanggup akan hal itu Kau harus beranjak,   Jengan menanti Senja bukan milikmu

Muara yang berbeda

Mengalir, sebuah istilah penggambaran kisah... Pada titik awal datang, Pada laju arus pelan Sebuah cerita datang mulai terlukiskan Tanpa beriak tanpa gelombang Hanya senyummu yang menawan Kala itu Rasa manismu tercampur sipu Merona, terbias pancaran surya Awal kisahmu dalam mengairiku Ada penghalang, tapi arusmu lebih membuat nyaman Walaupun ku tau itu, setelah beberapa waktu berlalu Salahku,, lebih menunggu genangan Yang terlihat dalam dan tenang, namun setiap gerakku hanya mempu membuatnya diam Saat genangan menghilang, arusmu semakin menghanyutkan Tak lama, setelah ku harus beranjak kepuncak Arusmu Sempat tak terdengar Kau mengalir pada alur lain Kuasaku menanti dengan telaga Telaga penuh kesetiaan, yang tak pernah kering Bodohku hanya sebentar membasuh dan pergi tanpa menyalami Telaga menjadi keruh Telaga itu kosong, walau akhirnya ada kehidupan baru didalamnya Ku, menanti pada alur kering Seketika, aliranmu datang Menghidup...