Posts

Showing posts from 2018

Sejenak

Saat badan tak lagi daya Mata pun turut tanpa sanggup memandang senja Terlalu lelah hari ini Dengan semua proyek sedari pagi Sejenak melepas penat, itu yang kubutuhkan Sebentar saja Kalau kau berkenan Ijinkan ku memimpikan mu Barang sekejap, rindu Semarang, 27 Desember 2018

Cinta Bedebah

Kunci tak lagi bisa membuka gembok Pagar jeruji, tetap kokoh berdiri Tak goyah Tak ada celah keluar Tak ada celah masuk Tak ada, Harapan untuk melihat tanah lapang Jeruji memisahkan Memetak antar ruang Ruang tawa Ruang derita Dan ruang ketiadaan Tiada mu, Membuat pengap bilik ini Berair, Tak ada manis hanya aroma amis Dari aliran darah sebab tak ada lagi air mata untuk menangis Tak ada tawa apalagi sederet canda Hanya getirnya nanah dan perpisahan Tak lagi ada syurga Tak lagi ada bengawan Yang mana hanya tertinggal lukisan Lukisan yang pernah kau katakan 'Indah?' Ya lukisan teramat indah! Kau melukis, mewarnai Menempelkannya pada dinding ruang, Dimana kita bangun romansa berdua Dan kau keluar Pamit, mengunci Pergi dan tak kembali Lukisan itu, Masih ada Masih terpampang disana Dan saat burung kecil datang Memberi sedikit kata, Yang senyap Namun sarat akan  makna Bahwa lukisan itu palsu Seketika Keindahan menjadi kehinaan Dan inil...

Mendung

Selagi petang hingga siang, kau pun begitu Kelabu... Tak mau kah kau berganti biru? Bukan lah langit yang ku pinta Langit yang begitu tinggi, selalu saja Tapi kamu Mendungku, yang sedang kelabu Semarang, 24 Desember 2018

Paruh Purnama

Bulan yang jauh, Begitu indah pada pertengahan edarnya Bulan yang jauh, Tersenyum meremang hiasi gulita Bulan yang jauh, Apakah dekatmu akan sama? Apakah dekatmu tetap merona? Bulan yang jauh, Tanpa ku bisa menggapai Tetaplah indah berseri Walau jauh, dan aku disini

Renung

Berfokus pada ujung jalan Kadang melupakan hiasan di tepian Hanya tujuan yang diingat Berhasil Atau hanya sebatas gagal Manusia memang begitu Dengan mudah dia terpangah Pada hasil orang entah berantah Yang tau, hanya menang atau pindah haluan Terlalu takut gagal Padahal belum pernah diungkapkan

Ragu

Kelu hati yang masih terasa Pada nyeri yang tersisa Siap atau tidak cinta itu tiba Menerima??? Mungkin nanti saja Jangankan lidah untuk mengutarakan Jantungpun tak sanggup mengartikan Hati juga  samar Batin riuh bergemuruh Dipenuhi ketakutan Takut hilang Hilang sebelum sempat berikatan Namun di saat yang sama Belum siap untuk berjalan Dan kembali terjerembap di persimpangan Semarang, 22 November 2018

Tak Berdaya

Pada sebuah batu, Dia berkata: Kuatlah! Ikat semua kesadaran yang beterbangan Kesadaran yang terlalu jauh Lama kau dambakan Separuh kesadaran, Yang lama kau biarkan Tanpa pengikat Tanpa pemilik tetap Kau pemiliknya! Jangan biarkan liar Ambil! Jika tak mampu menangani Carilah seseorang yang kau percayai Semarang, 21 November 2018

Mati

Mengering sudah, Hamparan hijau rimbun itu Yang pernah megah, Terus tawarkan kesejukan Kau pergi, Tak lagi sempat mengairi Dan Kaubiarkan hingga mati Semarang, 20 November 2018

Salah

Bencana Datang untuk menempa Melatih manusia Mensyukuri setiap bahagia Keindahan Hadir untuk dipertahankan Dalam perlakuan Yang menyejukkan Sayangnya Keindahannya tak bisa ku jaga Hanya kecewa Yang tersirat di ujung mata Pada kelopaknya Yang biasa menahan setiap air mata Tak ada kuasaku Terus menggenggam erat senyum itu Salahku Karmaku Merusak keindahan Jadikan kesedihan Perlu kau tahu Dalam sedih itu Jadikan bencana sistem fikir ku Semarang, 17 November 2018

Sembunyi

Siang ini Mentari dengan sedikit malu Terus bersinar,  namun tipis Terhalang awan kelabu Ku bertanya, Mengapa kau begitu? Masih marah kah padaku? Apa kau berusaha menghilang dan berlalu? Ayolah... Kau meredup, Saat ku lebih sering bercengkrama dengan bulan Bukannya memilih bulan Hanya saja Kau terlalu berusaha hangat Tapi dingin dalam kata Dan pertemuan Semarang, 13 November 2018

Tanya Hujan

Malam ini Tanah berubah basah Untuk yang kesekian Dari langit, hujan Kau curahkan Hujan-Mu... Datang tanpa permisi dahulu Datangnya, Ada kala orang mengumpatnya Ada juga yang bersuka ria Lantas, Hujan untuk siapa? Semarang, 12 November 2018

Bermain Memori

Tanah yang masih basah Dari sisa hujan yang menerjang Pada sisi teras ini Ku terus memandang pelataran Gulita Warna yang pekat menghiasi sunyi Sendiri , Termagu mengorek memori lalu Hingga rasa itu kembali, Rindu Datang menghantu Ku rindu senyummu Kala itu Semarang, 9 November 2018

Hempas

Telah terbuang sekian waktu Hilang hanya untuk diam Menikmati suasana kepergian Tak berguna! Hempaskan saja, patahkan Jangan terus terdiam Hiduplah pada pembaruan Semarang, 06 November 2018

Ketakutan

Padamu... Pada sesingkat waktu itu Kau biaskan bahagia Dalam senyum dan tawa Sekarang Lebih layu Dalam wajah sayu Takutku Bungamu gugur Dan tinggalkan waktu Semarang, 4 November 2018

Damai Terancam Punah

Riuh sedang menggebu Bergejolak warnai negeri Pilar kedamaian yang kokoh menaungi Kini mulai tergerogoti Perbedaan yang pernah menyatukan Pagi ini, mengantar isu kehancuran Semarang, 2 November 2018

Kisah Dalam Goa

Setitik pertemuan air Pada jalanan gelap, dia berjalan mancari titik terang Terus mencari tanpa tapi Dari waktu tak jauh darinya Pertemuan itu ada Yang menyatukan mereka Jadikan satu titik hidup nantinya Dimulai kecil Berbelah dan mengganda Semakin besar Jadikan bentuk berupa Dari situ, rekam tugas ditayangkan Hak hak mereka tentukan Memilih! Baik atau buruk kisah perjalanan Dan, Setelah memantaskan diri Mereka keluar untuk menyambut mentari #awalHidup

Cerita Senja

Jingga menyerang, gerogoti birunya siang Adanya yang sekilas, Kisahkan cerita Pada singkat itu, pada peralihan petang itu Datangmu Memancu irama degup nadi Di sini, darah lontarkan tarian melodi Rasa yang terlalu fatamorgana Bahagia atau kebimbangan yang terasa? Bahagia karna kau ada Bimbang logika menafsirkannya Pandang yang menyudut itu Dengan kelopak yang sedikit menciut Manis itu terlihat Maafkan, karna tanpa perijinan Melalui cermin, mataku mencuri

"Seakan" Manusia

Kau tahu? Saat ini banyak bangkai yang berjalan Yang tertawa, elok dalam parasnya Mereka bisa saling bercengkerama, Bertukar tutur tatap mata Mereka Sebenarnya hidup, layaknya kebanyakan ciptaan Hidup untuk menerkam Semua seakan musuh Picik di balik topeng ramah, Saling menjerumuskan Tanpa santun Berilmu, tapi menipu! Pada mereka Makna hidup itu, sejajar bangkai Pencemar! Kalau dibiarkan Seakan tak layak lagi disebut "Manusia" #Semarang

ITU

Sesuatu yang jauh terukur jengkal Kecil Begitu nampak kecil, buram Terus berjalan Mendekat, pada titik terang Lajunya yang tanpa aturan Kadang terhenti Namun lurus dengan pasti Hal itu Semakin dekat menuju diriku Langkahnya, timbulkan guratan rintih Tergambar, pada titik jejaknya tang tertinggal Semakin terkikis tiupan angin, Terpudar Akhirnya dekat Ternyata, dalam pandang nyata Hal itu... Engkau, yang begitu kelabu #semarang

Semu

Bias hari itu, menjalar arungi dinding fatamorgana Indah auranya melukiskan aurora, merajut angkasa Kisah-kisah itu Mencuat, lompati tiap putaran poros sudut pandang Senyummu, Tiba-tiba tergambar di retina Jelas jatuh lalui lensa, terfokus Terfokus, hingga begitu nampak Kau ada, Ada dan jelas menjelma Ku ingin sapa Kau tiba-tiba menghilang, sisakan sisi kehangatan Nek, setelah lama pergimu Kini kau kembali, dengan segala kenyataan semu Di balik nisanmu yang hampir hancur itu Ku terus, ingin kau tersenyum seperti kala kafanmu mulai melekat Seperti pada saat, sebelum kau terbalut kubur #semarang

Pilu Juangmu

Suara sunyi terus-menerus menyala Hiasi kerlip redup malam gulita Dengan rembulan terang Namun tak nampak, awan angkuh menghalanginya Ingatkan akan sang bapak bercerita Yang biasa terbawa dengan nanar di pelupuk mata Suatu cerita, Di kala mudanya, yang menggaung sengsara Dia merela tidur terselimut lapar Pergi dengan hiasan baju usang Tanpa gengsi, pergi ke kota mengasah rasa Mengasah, dengan jerih payah Demi membuang buah yang sepah Menumbuhkan manis penuh berbuah #semarang

Datang dalam Pergi

Jalanan terjal Langit membentang Tingginya gunung menjulang Berjalan Lalui liku Hembus angin menyapa Ada namun tak ada Secercah titik jauh Sebongkah rasa jenuh Terbahak kamuflasekan luka Dalam hitamnya cahaya Gelapnya warna putih Gambarkan didih periuk perih Tak ingin ada Luka terus menganga Teriring roda putar Hingga Jauh Semakin menjauh Hangat mu Dekap ragamu Sudut senyum mu Kurindu Ibu #semarang

Lupa dan Terluka

# Ronta manusia mengancam pencipta Pencipta bersalah! Meluka manusia, dengan takdir kuasa Dengan seenaknya mengganggu cerita rencana Bebas... Jalan kaki ingin bebas! Tanpa belenggu, skenario ketetapan # Tuhan harap harmoni   terjadi! Nyata berbalik! Jahat tangan mencemari, Alam pun ternodai Murkanya... Bergejolak berkata, Memalui serdadu alam patuh-NYA Menggulung pejalan kerusakan # Penguasa memberi Hamba mengingakri Baik terbalas mencekik hingga Murka-Nya terbalas murka Seakan kepercayaan tak lagi ada # Pendosa! Tak ada siksa jika tak dosa tak ada bencana jika tak lupa Haruskah Dia Yang Teradil tersalahkan haus kuasa? #semarang

Sedikit Kenang

Dalam loker ingatan Sebuah bayang samar terlihat Namun jelas hati menggambarkannya Kenangan itu, Dua tahun lalu...    Juli...    Perjalanan singkat yang lama diharapkan    Canda tawa tak seperti biasanya    Dalam satu hari penuh senyummu menemani    Mulai mata terbuka hingga terpejam pada kemudiannya Perjalanan pagi buta Lalu riang pada panasnya kota budaya Cerita yang biasa berpacu jarak Saat itu begitu dekat Sangat dekat    Saat itu pula bahagia meraja    Sebenarnya aku tak merasakan perjalanan    Hanya bahagia dalam kebersamaan    Yang tertuju...    Pada rekah senyummu Senja tiba.. Tak ingatkah engkau saat surutnya mentari? Kita sembari didepan dinding kaca, bersama Menikmati cahaya sisa sang surya Pada hangat tangan mu kala itu Disitu pula,  harapan Ku muarakan    Hari senja menuntut kita kembali    Akan...

Terimakasih

Buah patah kata Untukmu penuh wibawa Dari sebuah perjanjian Berimbas kedisiplinan Langkah demi langkah Walau berat tetap melangkah Pada garis waktu tertentu Terlambat seakan aib bagiku Karena.. Semua berlomba untuk datang dipagi buta Memersiapkan nafas dalam, untuk menyoraki pejuang siang Tak hanya di-anda Berlama-lama mental kami terbentuk juga Begitu saja mengalir Hingga ke pengajar lain Tak sengaja, seolah disiplin Mungkin reflek alam bawah sadar   Atau Mungkin Seleksi alam yang memberikan tuntutan Walaupun Disaat tertentu rasa remeh kadang datang Mengiring pengajar yang gampang Inti yang akan terkatakan Terimakasih bapak, pernah berupaya mengekang. sebab dari itulah, kami belajar komitmen kehidupan. #semarang

Terpaksa

Baik dan terlalu baik, Suatu keadaan semu untuk diungkit Terlalu sama, Untuk divonis berbeda Kini... Pagi terasa senja Diamana mati rasa mekar seenaknya Bagaimana tidak? Dinginnya embun harus ditimbun Tertimbun arsip pendidikan Yang menuntut ketepatan Seperti yang terlihat Seri seri semangat Tergambar jelas pada senyum memelas Baik dan sangat baik Namun belum terbiasa bangkit Yang biasa memerpanjang waktu Herus seketika itu tertuju Bukan sebuah rahasia Sudah pula banyak yang berbicara Bersumber keluh kesah batin Yang bersabda “aku benci hari senin” #semarang

Matinya Perjuangan

Tertatih menempuh waktu,, Yang terjal kian berliku Dengan moral tipis Sebab kepekaan rasa yang terkikis Kemungkinan pasti ada, jikalau pendiri bangsa berduka Melihat hasil tetes darah Diisi dengan derita penuh resah Bukan derita dijajah Namun hanya karena asmara yang pecah Lemah.... Ya.. banyak yang lemah Padamu wahai pejuang bangsa Aku sampaikan, aku bagian  dari kegagalan aku tak sekuat kalian Aku yang sekarang menyerah tanpa perjuangan #Semarang

Rindu Bulan

Seberkas rasa menumpuk begitu saja Tanpa ditata tanpa terikat pula Terbengkalai tanpa tahu harus diapakan Sebenarnya, aku ingin menghilangkan, namun hati mengalami penolakan Bulanku... Yang biasa terangi setiap garis sepi Yang lama ada namun dengan sekejap telah sirna Bulanku... Maafkan aku yang tak bisa memertahankan kilaumu Yang selalu jauh, membuat kau jenuh Bulanku... Dalam rangkai kata tanpa cerita Dalam sajak sederhana tertulis “cinta” Hatiku berkiblat akan hadirmu Tertitik pada detik saat ini juga, kuingin kau ada Bulanku.. maafkan gejolak rasa ku yang saat ini terlalu bersalah mengharapkanmu bulanku.. maafkan aku, yang sedang merindu #Semarang

Metamorfosa Sementara

            Senja yang mulai meyingsir berganti petang. Tak kuasa tuk ingatkan seseorang pemuda dari jerumusan persetan. Dengan jalan yang agak mendoyong terpengaruh minuman keras. Dia pun tertawa sambil lantunkan lagu sumbang tak enak didengar.             Beberapa saat ada seorang nenek renta sedang berjalan membungkuk menyusuri setapak terjal. Pemuda tersebut bertanya dengan tak bertutur kerama “heh bangkai berjalan.. udah tua kenapa masih jalan aja, ganti lah kegiatannya. Nyangkul tanah atau apa biar entar kalau capek terus mati tak usahlah ngerepotin orang buat ngankat-ngangkat, langsung udah nyungsep ke liang kubur. udah aja tinggal kubur”. Sang nenek tersenyum lalu menjawab “jalan nenek masih panjang dan nenek akan menyusurinya sesampai nenek nanti harus berulang”. Leleki itu hanya terdiam mendengar katasang nenek.           ...

Waktu yang Hilang

Sisa debu dalam jejak Sebagai tanda aku pernah beranjak Yang beranjak Lama tak menepi Hanya kedepan Dan menoleh sesekali Targertu menempati waktu Hanya saja...... Jalan terlalu berliku Memang, penampang jalan lebar Apadaya banyak peserta persaingan Saat ingin cepat, penghalang terlalu rapat Saat ingin melambat, pasti tak akan sempat Disini... dalam detik ini,, Kamu lah titik juangku Aku yang jauh dibelakangmu Aku yang terlalu lambat mengejar Namun saat ku datang Waktumu telah menghilang. #Semarang

Usang

Semua ujung terperarah runcing Memancing peranggai hati Dalam rasa mu , masa jauhku Dalam degup aliran nafasku Yang menyatu penuhi harap padamu Sahabat nadiku.. Pagiku terhias manis senyummu Dikala hawa mengikat penuhi hati Kau bersinar datang Kian menghangat hapus embun beku Kalahkan kilau mentari biru Yang biasanya menghanguskan jiwa Membuat hidup terasa binasa Namun takdir menyeru jauh dari masa esok Yang berkata , jauh, jauh dan menjauh Dalam bimbang.. Yang akan menghias perpisahan suatu saat datang Sepi tergali hanyut mendalam Menyekat pandang hidupku nan jauh memuram Sampai jumpa dalam pertemuan singkat ini Teruslah tersenyum,agar dunia tak meredup…. #Santrinya Abah #Wonosobo

Salah menanti

Terbayang ketika itu Aku terdiam, berdiri tegap berdiri. Diam, diam dan tetap diam Hati bertanya “kamu kenapa” Aku tetap diam.... Logika seraya   berkata “ku menanti sesuatu”   Aku menanti senja Aku akan diam Dan Terus menantinya dari pagi buta Hati menimpali Percuma, pergilah, kau lemah Kelemahanmu tak sanggup akan hal itu Kau harus beranjak,   Jengan menanti Senja bukan milikmu