Terbuang

Sebuah hutan tiba-tiba muncul di pelataran. Dari balik jendela, semua rumah telah hilang, hanya barisan pepohonan yang terlihat. Dela hanya bisa terbelalak melihat semua kenyataan itu. Dia tak menyangka kalau tempat yang dia tinggali akan berubah.
 
Dia terbangun, memanggil ibunya namun tak ada jawaban sama sekali. Dengan bekal kebingungannya dia berjalan ke sertiap sudut rumahnya, menyisir seluruh tempat yang bisa dia gapai. Ruang tengah, kamar-kamar, dapur, ruang bawah tanah, balkon, siapapun tak ada di sana.
Dia berjalan keluar, memanggil siapapun yang dapat dia temui. Tak ada balasan, hanya desir angin dan kesunyian yang membalas sapaannya. Diapun duduk di beranda rumah. Menunggu seseorang datang. Yang entah siapa itu, dengan bermodalkan keyakinan kalau akan ada seseorang yang bakal datang menemuinya.
Dia hanya ingat nama dan memori kalau dia memiliki ibu. Namun wajah dan nama ibunya sama sekali tak diingatnya. Dia mau menangis, tapi tak tahu apa yang akan dia tangisi, tentang kenyataan dia sendiri kah? Atau tentang merindukan orang lain kah? Dia pun tak bisa menentukan apa yang akan dia tangisi, dan akhirnya dia tetap menangis karena kebingungan yang terlalu membelenggu pikirannya.
Matahari makin meninggi, dan udara semakin memanas. Kesendiriannya masih saja belum hilang. Di beranda dia tetap menunggu.
Burung datang, seketika Dela memandanginya. Burung pun berbicara, menyapa Dela, yang sontak membuat dela terkejut, takut. Dengan sedikit keberanian, dia menjawab sapaan burung. Yang awalnya takut, kini dela tersenyum, merasa bahwa dia memiliki teman.
Hari-hari berikutnya Dela dengan seekor burung itu terus bersama. Melewati semua waktu yang tanpa kejelasan tentang apa Dela lakukan, dimana, dan akan apa nantinya, dia hanya bisa menjalani hidupnya dengan burung itu, mengobrol, berlari, dan sekedar bertahan hidup.
Sang burung sudah seperti orang tua bagi Dela. Dia selalu menasehati jika Dela berbuat salah, menunjukkan dimana tempat makanan, mengajari bagaimana harus memasak. Dela selalu merasa terbantu, dan kesepian itu hilang.
Suatu saat, di malam hari, ingatan bahwa dia sendiri, dan kenyataan dia membutuhkan sosok manusia lain pun muncul. Dia ingat bahwa dia membutuhkan seorang ibu. Sang burung pun merasa iba.
Paginya, setelah bangun, Dela merasa sendiri lagi. Burung itu hilang! Tanpa kabar dia pun berlari menyusuri sejauh dia bisa mencari. Di hutan itu, yang awalnya tidak pernah jauh dari rumahnya, dia terus berlari mencari sang burung. Tak sengaja, dia terperosok, dan jatuh di sebuah jalan raya tepi hutan. Dia mendapati sang burung sedang di seberang jalan. Diapun senang, dan berlari ingin memeluk sang burung.
Air matanya tak dapat terbendung lagi, melihat sang burung tergeletak mati. Dia membawa sebuah gambar wanita yang itu mengingatkan Dela tentang ibunya. Dia ingat, namun untuk apa? Dimana dia bisa mencari? Dan mengapa Burung harus mati demi mencarikan siapa dela sebenarnya. Diapun terus menangis, tersedu-sedu.
                Dela terus menangis, dan akhirnya terbangun. Dengan sedikit sedih yang masih mengenang. Dan akhirnya dia kembali pada kenyataan. Kenyataan tentang Dia yang bukan siapa-siapa. Yang Dia hanya seseorang yang hanya bisa hidup di dalam kamar dengan sengkarut selang infus. Yang dia terlalu terpukul karena kehilangan seseorang yang pernah dicintainya.
                Dia menyesal telah pernah mencoba bunuh diri, hanya karena orang lain yang meninggalkannya. Kini setelah lebih dari sebulan tak sadarkan diri, dia telah kembali siuman. Menyesali semuanya, dan mencoba kembali pada kehidupannya yang dulu pernah dijalani. Dengan badan yang lemah, dia berusaha pulih.
Kab. Semarang, 31 Oktober 2019

Comments

Popular posts from this blog

Salah

Cerita Senja