Posts

Showing posts from 2020

Kesahmu

Masih sampai koma Belum titik yang mengakhiri kata Tak usahlah berkeluh kesah, percuma! Tulis apa yang kau pikirkan Pun kalau otakmu mampu, tapi iya kah? Sudahlah, berhenti saja Tutup buku, letakkan jauh-jauh Benar, buku jendela dunia Kau tak akan tahu kalau tak keluar menjajakinya... -Kesahmu- 12 November 2020

Peminta Pemilih

Bebunyian menyeruak Dari kering tenggorokan serak Memohon... Meminta... Mengharuskan dan menuding Tuhan seraya paksaan "Aku sudah baik mengapa kau tak kasih kebaikan?", katamu Sedang lupa sekedar hidup saja untuk menjalani jalan surga, itu kan kesempatan? Kesempatan yang bisa kau pilih, bukan sekedar wayang Wayang yang hanya patuh, tak bisa memilih menjadi baik Dianggap jahat, akhirnya kalah dalam Baratayudha Kembali ke kotak gelap, sempit Dibangunkan lagi, jahat lagi, kalah lagi, terus pengulangan Bukankah telah diberi pilihan untuk jalan mana yang kau mau? Soal nanti urusan nanti, yang penting sekarang Asal kau mampu mendengar syura, menapaki kebajikannya Kau bisa mendapat tempat layak Karena kisahmu, bukan sekedar wayang dan dalang Semarang, 4 Oktober 2020

Sebuah Keharusan

 Pada empat angka berderet, dengan titik dua di tengahnya Dia mengabarkan, sebuah waktu menunjuk petang Dan kamu mengantarkan sebuah pilihan, antara berkata dan mengungkapkan Aneh saja, yang sekira biasa Tanpa kata tanpa warta Tetiba harus saja berbelit rasa Ah... jalani saja Asal dinisbatkan antar persepsi, wali, dan ilahi Semarang, 11 September 2020

Tema Cinta

Alinea telah banyak tertitik Antara koma atau apapun itu tak jelas, menjeda Predikat demi predikan lantas bertebaran Namun Subjek hanya bisa membayang Tanpa objek sebagai tujuan Dan cerita selesai, tanpa amanah ditorehkan Tema cinta kembali mencuat, muak! Apa itu cinta? Hal yang begitu abstrak Penuh misteri? Tidak, hanya drama dan ilusi Alinea masih bosan untuk memulai kembali Menyusun kata untuk yang kedua Menjalin benang merah antar semua masa, kembali Tidak! Masih belum untuk bisa kembali menikmati Bisa jadi lusa atau dekade yang berkata Semua hanya lotre yang tak akan mampu menjalin Menyulam kembali inti dari ruh yang terlepas, pergi Semarang, 21 Februari 2020

Nyata yang Fana

Kau pikir kami bahagia? Terimakasih atas rapalan doa dalam duga Kami berusaha, sekedar untuk tetap bernafas Menikmati cahaya yang merembas ke mata Menyusun kata, mengelabuhi diri Mencari pembenaran atas apa yg terjadi Tanpa perlu nyata, terungkap Nyata itu fana Hanya pola yang kusut, terbentuk ketiadaan Semarang, 16 Februari 2020

Pesan untuk Bintang

Untuk bintang yang di sana Tak lelahkah bersinar? redup Jauh, kau sinari bumi Untuk apa? Cahayamu saja tak sampai Tak mau tidurkah?  Sudah lah, berhenti bercahaya... Adamu percuma Semarang, 14 Februari 2020

Jangan Peduli

Dimana diam lebih merdu ketika kau tak ingin dengar Dimana api lebih dingin di kala kau tak peduli Sarafmu... tidak, maksudku otakmu Bisa memanipulasi diri Dengan tidak peduli kau akan lebih bijak Bijak dalam urusan orang lain Tak akan salah, karena memang tak memasukinya Jangan suka membantu, kadang kau tak dihargai Atau dimanfaatkan. Kebaikanmu memunculkan ketagihan!!! Jika kau tak peduli kataku Keapatisanku kau jg tak ikuti Maka terserahlah, Ingat! Jangan peduli, termasuk kataku Berbaiklah sesukamu, hingga orang sungkan untuk menjatuhkan Semarang, 14 Februari 2020

Untuk Logikaku yang Tak Kumiliki

Lolongan itu terus saja saling berseteru Bergulat dalam kotak kecil yang kubuat, Bukan! Tapi meronta sendiri tanpa kumengerti Kadang harus bertindak, memulas wajah Seakan hanya bertindak untuk wajar, terlihatnya Tanpa pikir! Karena tak bisa berpikir Terus saja! "Jangan pedulikan apa yang kau dengar!" Suara sunyi itu kian berisik... Bahkan untuk genderang, ataupun gendang yang kuputar Semua terasa mengganggu Ada apa denganku? Apakah ini mimpi dalam terjagaku Ingin ku cepat terbangun jika ini mimpi Namun yang mana yang mimpi? Semua terasa melelahkan! Ingin kuakhiri, namun ujung tentang kesudahan tak jelas terlihat Lantas haruskah menunggu atau mengejar? Namun kemana jika mengejar? Kemana logika yg sedari dulu membayang? Apakah akan terus membayang? Gelap tak berarti apa-apa Tanpa warna, tanpa makna, tanpa hidup yang pernah ada sebelumnya Semarang, 12 Februari 2020

Prasangka Citra

Baik atau buruk itu kenyataan Tapi citra yang kau terima, kadang berbeda Kadang pula sikapmu yang menjadikannya berbeda Kau terlalu baik Hingga tak peduli apapun, terus berprasangka baik Jangan begitu Hingga suatu saat kau tahu Kau akan kecewa Karena teman dekatku lbh tahu, dan nyata saja Mungkin, kalau tak ada penambahan dalam fakta Tentang Kebangsatan diriku, kau tahu? Aku ingin tertawa! Dan bangsatnya mereka!!! Dengan mudah bercerita, padahal telah dipercaya Semarang, 7 Februari 2020

Secarik yang Kau Beri

Kata siapa senyum bisa menyenangkan hati? Namun yg kurasa runtuh, tak lagi berkonstruksi Saat itu Secarik kata pamit yang kau berikan, mengganjal Dan teka-teki kudapat setelah hari berlalu Sore itu saat mengunjungimu, senyummu kau berikan Senyum terahir dengan mata sedikit menyipit Terakhir untuk bercakap, dan seterusnya terhenti Senang? Ya, karena kau baik-baik saja Namun senyummu yang kedua, Kau datang, dengan rombongan Dengan seutas kain yang menghias dagu, hingga kepala Dan hijab putih serta bedak tipis yang menyertainya Senyummu, tak membuatku sedikitpun bahagia Decak air mata turun kala itu, dan kini saat mengingatmu Semarang, 7 Februari 2020

Berburuk Sangka Baik

Jangan mengira menari karena senang hati Bisa saja gila sedang menggenang Atau sedih menepis bincang Karena tak perlu kata Untuk menjelaskan setiap nafas Atau setiap denyut yang angan gerakkan Jangan mengira tawa adalah bahagia Bisa saja sama sekali tak ada rasa Kosong telah memenuhi setiap bilik otak yg sempit Karena tawa hanya butuh suara Sedang senyum, sunyipun bisa Jangan kira kasih karena memiliki Miliki sesuatu yang bisa terkasih Bisa saja tak punya 'apa' Apalagi 'bagaimana' Karena untuk memberi bisa dengan mencuri Memberimu, menghilangkan dari sesuatu Hingga sebenarnya kau hanya hampa Semua yang kau 'aku' sama sekali tak ada Jangan meng-aku dirimu, sedikit saja Dan Untuku mu, yang tidak memiliki 'kau' Apa lagi aku? -haha, berhayal Lantas Suaramu yang bukan milikmu Suka saja mendengarnya Serta Senang saja mengetahui itu Keberadaanmu yang bukan kamu Semarang, 26 Januari 2020

Tak Mungkin

Dipikir lagi untuk kembali sedikit jauh Melompati satu angka kebelakang 'Tak mungkin!', teriakan itu parau Memang tak mungkin Jejak yang kutinggalkan penuh ranjau Didekat cerita itu, tokoh itu Hingga tak berani pergi Jika saja mendekat 'Duaaarrr!!!' Bukan saja terluka Mungkin mati, bisa saja Mati untuk terus bergentayangan Menyimpan dendam Semarang, 10 Januari 2020

Bahagialah

Ini bukanlah sebuah makna Namun sekelebat kata yang benar terungkap Tak usah mencari arti tersembunyi, susah Sudahlah, nikmati yang nampak saja, tersenyumlah Jangan sekali bersedih dengan bodohmu, yang tak memiliki kata mampu Kau itu bodoh, akui saja Agar kau faham untuk belajar Jangan merasa kau layak, hingga lupa memperlayak Hingga lupa bahwa kau memang tak layak, untuk semuanya Untuk sedikit saja pujian, bahkan cacian Kau tak layak untuk dicaci, maka berbanggalah Bukan karena sayang atau bahkan iba, atau karena mencaci itu hal buruk Bukan... Tapi memang tak layak dicaci Karena untuk mencaci berarti peduli Dan kau, bahkan eksistensimu untuk sekedar ada, tak penting Tak sepenting polusi, walau sedikitpun itu Semarang, 8 Januari 2020