Sipi: Perjalanan Sebuah Naskah Skripsi
Sipi.
Nama itu adalah pemberian Tania, sang pemilik. Sipi bukanlah manusia, bukan
pula makhluk hidup, tapi selembar demi selembar kertas yang tersusun rapi dalam
sebuah jilidan tebal berwarna biru tua. Di halaman pertama terukir nama lengkap
Tania dan judul yang pernah membuatnya begadang berhari-hari, “Analisis
Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir di Era Digitalisasi”. Sipi adalah skripsi
yang telah diperjuangkan dengan darah, keringat, dan air mata—simbol dari akhir
perjalanan panjang Tania di bangku kuliah.
Pada awalnya, Sipi adalah segalanya bagi Tania. Setiap kata yang tertuang di halaman-halamannya tidak datang dengan mudah. Tania menghabiskan berbulan-bulan mencari referensi, mewawancarai masyarakat pesisir, hingga menghabiskan banyak malam di depan laptop dengan mata lelah dan jari-jari yang terasa berat untuk mengetik. Setiap bab disusun dengan penuh perhitungan, penuh perjuangan, dan tentunya penuh harapan.
Tania ingat betul malam-malam panjang tanpa tidur, menyesap kopi hitam yang sudah tidak lagi terasa pahit, demi mengejar tenggat waktu bimbingan. Tidak jarang ia harus merombak bab demi bab karena dosennya, Pak Hendra, mengatakan, "Tania, analisismu harus lebih tajam. Ini kurang menyeluruh." Setiap kali pulang dari bimbingan, rasanya seperti dihantam badai kritik. Tapi Tania tak menyerah. Bagaimanapun, Sipi adalah jembatan menuju gelar sarjana.
Setelah berbulan-bulan berlalu, hari yang ditunggu akhirnya tiba. Sipi berhasil diselesaikan. Tania merasakan kepuasan yang luar biasa saat jilidan tebal berwarna biru itu akhirnya dicetak dan ditandatangani oleh dosen pembimbing. Sipi yang selama ini hanya berupa file digital, kini memiliki bentuk fisik yang nyata.
Sidang skripsi adalah babak akhir perjuangan Tania. Dengan Sipi di tangan, ia masuk ke ruang sidang dengan perasaan campur aduk—antara gugup, takut, dan lega. Selama tiga jam yang mendebarkan, ia menjelaskan setiap bagian dari Sipi, menjawab pertanyaan para penguji dengan sebaik mungkin, hingga akhirnya kata-kata yang dinanti itu keluar dari mulut ketua penguji, “Tania, kamu lulus.”
Tania tersenyum lega. Perjuangannya tidak sia-sia. Sipi, sang skripsi, adalah buah dari segala pengorbanannya, dan kini tugasnya sudah selesai. Dengan hati riang, ia menyerahkan Sipi ke perpustakaan kampus, melengkapi rak yang berisi ribuan skripsi lainnya. Pada saat itu, ia percaya bahwa Sipi akan menjadi sumbangsihnya bagi ilmu pengetahuan. Mungkin, suatu hari nanti, ada mahasiswa yang akan membuka Sipi dan menggunakan penelitian itu sebagai referensi untuk skripsi mereka.
Waktu berlalu. Tania lulus, bekerja, dan menjalani hidupnya. Perlahan-lahan, ingatan tentang Sipi memudar. Perjuangan menulis skripsi yang dulu terasa begitu berat kini terasa seperti bayangan samar. Hidup terus berjalan. Sementara itu, Sipi, si naskah skripsi, tersimpan di rak perpustakaan, berdiri di antara ratusan skripsi lain yang juga pernah diperjuangkan dengan keras oleh para penulisnya.
Hari-hari bagi Sipi berlalu dalam kesunyian. Tak ada mahasiswa yang tertarik untuk membukanya. Tumpukan skripsi baru terus berdatangan setiap semester, mempersempit ruang di rak-rak perpustakaan. Semakin hari, semakin banyak naskah yang menggeser posisi Sipi ke sudut yang lebih terpencil, lebih jauh dari jangkauan tangan.
Lama-kelamaan, debu mulai menutupi jilid biru Sipi. Tidak ada lagi yang peduli dengan isinya. Bagi Sipi, hari-hari terasa semakin hampa. Hingga suatu hari, petugas perpustakaan datang dengan gerobak kecil.
“Wah, skripsi-skripsi tua ini harus segera dipindahkan,” gumamnya sambil melihat ke rak yang penuh sesak.
Petugas itu mengambil Sipi bersama beberapa skripsi lain, lalu memasukkannya ke dalam kotak kardus. Tanpa basa-basi, kotak-kotak itu dipindahkan ke gudang di belakang perpustakaan. Di tempat yang pengap dan gelap, Sipi dan skripsi-skripsi lainnya dibiarkan menumpuk.
Waktu terus berjalan, dan akhirnya pihak kampus memutuskan untuk membersihkan gudang tersebut. Skripsi-skripsi lama, termasuk Sipi, dianggap sudah tidak lagi relevan. Banyak dari mereka dibuang begitu saja. Tapi Sipi beruntung. Sebelum ia berakhir di tempat sampah, ada seorang pemulung buku bekas yang mengambilnya dan menjualnya ke sebuah kios kecil di pasar loak.
Di pasar itu, Sipi diletakkan bersama buku-buku bekas lainnya. Jilid birunya yang dulu mengkilap, kini tampak kusam, dengan sudut-sudut yang mulai terkelupas. Ia terselip di antara novel usang dan buku pelajaran lama. Tak ada yang memperhatikannya. Sipi, yang dulu begitu berharga bagi Tania, kini hanyalah sebuah skripsi tak berarti di kios buku bekas.
Suatu sore, seorang pria paruh baya datang ke kios itu, melihat-lihat buku bekas. Tangannya yang kasar meraba-raba sampul buku-buku yang berderet. Ketika ia mengeluarkan sebuah buku dengan jilid biru tua yang tebal, matanya sekilas menangkap judulnya.
“Analisis Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir di Era Digitalisasi.”
Pria itu mengangkat alisnya. Skripsi lama, pikirnya. Tak terlalu menarik. Namun, ada sesuatu dalam naskah itu yang membuatnya berhenti sejenak. Ia membuka halaman pertama, membaca pengantar yang ditulis Tania dengan penuh harapan. Ada nama-nama penulis yang pernah ia kenal. Dunia ternyata begitu kecil.
Tanpa berpikir panjang, pria itu meletakkan Sipi di tumpukan buku yang akan dibelinya.
“Berapa harganya?” tanyanya pada penjaga kios.
“Lima ribu rupiah.”
Hanya dengan uang lima ribu, Sipi berpindah tangan. Bagi pria itu, mungkin skripsi tersebut akan menjadi tambahan di rak buku tuanya di rumah. Namun, bagi Sipi, itu adalah akhir dari sebuah perjalanan panjang—dari sebuah naskah yang pernah diperjuangkan dengan penuh darah dan air mata, menjadi sekadar pelengkap di rak buku bekas, menunggu takdir yang entah seperti apa.
Sipi, sang skripsi, pernah menjadi segalanya bagi Tania. Namun, seperti banyak hal lain dalam hidup, apa yang dulu sangat penting bisa dengan mudah terlupakan dan terabaikan. Waktu terus berjalan, dan tidak ada yang abadi—bahkan untuk karya yang dulu begitu diperjuangkan.
Comments
Post a Comment