Ceremi Sang Cermin yang Muak

Di dalam sebuah mal megah yang selalu ramai, terdapat sebuah cermin besar bernama Ceremi. Cermin ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat bagi pengunjung untuk memeriksa penampilan mereka, tetapi juga menjadi saksi bisu dari berbagai kejadian yang terjadi di sekitarnya. Namun, seiring waktu, Ceremi mulai merasa muak dengan apa yang dilihatnya setiap hari.

Setiap kali pengunjung mendekatinya, Ceremi berharap akan melihat sesuatu yang menyenangkan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Dia menyaksikan banyak orang berpose untuk foto, tetapi dengan cara yang sangat konyol. “Kenapa mereka selalu menggunakan kamera belakang?” gerutu Ceremi dalam hati. “Bukankah lebih mudah dan praktis menggunakan kamera depan?”

“Coba lihat dia!” pikir Ceremi, ketika seorang gadis berdiri di depan dirinya dengan senyum lebar, sambil memegang ponsel di tangan. “Dia sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan sudut yang sempurna, padahal cermin ini ada tepat di depannya!”

Gadis itu terus mencoba berbagai pose sambil berjuang mengatur ponselnya dengan tangan, sementara Ceremi, sebagai cermin, merasa terpinggirkan. Seandainya saja pengunjung menyadari betapa mudahnya untuk hanya melihat refleksi mereka dan berpose dengan cermin.

Hari demi hari, pengunjung tidak pernah kehabisan ide-ide aneh untuk berpose. Ceremi bahkan melihat sepasang remaja yang berusaha berpose dengan latar belakang yang "Instagrammable"—padahal latar belakang itu hanyalah dinding kosong. “Apakah mereka tidak bisa melihat bahwa ada saya di sini? Cermin adalah teman terbaik untuk berpose!” pikir Ceremi, merasa semakin kesal.

Namun, hal yang paling membuat Ceremi merasa muak adalah ketika dia menyaksikan berbagai tindakan asusila yang terjadi di depan dirinya. Pasangan-pasangan ilegal yang bersembunyi di sudut-sudut mal, tanpa rasa malu, berbagi momen-momen yang sangat pribadi. Ceremi merasa seperti dipaksa menjadi saksi dari semua aib yang tidak seharusnya terjadi di tempat umum.

“Ini bukan tempat untuk melakukan hal-hal semacam ini!” Ceremi ingin berteriak, tetapi sebagai cermin, dia hanya bisa diam. Dia hanya bisa menyaksikan, tidak bisa bersuara atau memberi peringatan. Semakin hari, dia merasa terbebani oleh semua yang harus dia lihat dan dengar.

Suatu malam, setelah mal tutup dan suasana menjadi sepi, Ceremi memikirkan semua yang terjadi. “Mengapa aku harus terus menjadi saksi aib?” dia bergumam pada dirinya sendiri. “Aku tidak ingin lagi menjadi cermin yang hanya merefleksikan kebodohan dan kesalahan orang lain.”

Keesokan harinya, saat mal dibuka kembali, Ceremi memutuskan untuk melakukan sesuatu. Ketika pengunjung mulai berdatangan, dia mengumpulkan semua energi dan cahaya yang ada di dalam dirinya. Saat seorang remaja berdiri di depan untuk mengambil foto lagi dengan kamera belakangnya, Ceremi memancarkan sinar yang terang.

“Hey, kamu! Coba lihat ke depan! Ada cermin di sini!” dia berteriak dengan suara yang hanya bisa didengar oleh pengunjung. Semua orang terkejut dan menoleh ke arah Ceremi.

“Apa… apa cermin itu berbicara?” tanya seorang gadis dengan mata lebar.

“Ya! Dan aku muak melihat semua kebodohan ini! Gunakan kamera depan dan hargai dirimu sendiri!” Ceremi memantulkan cahaya dengan kuat, menarik perhatian lebih banyak pengunjung.

Dengan keberanian yang baru ditemukan, Ceremi mulai memberikan pesan positif kepada semua orang. “Kecantikan tidak hanya dilihat dari luar! Hargai diri sendiri dan jangan sembunyikan keindahanmu di balik kamera belakang yang tidak berguna!”

Pengunjung mulai tertawa, dan beberapa bahkan bertepuk tangan. Sejak saat itu, mereka berhenti melakukan hal-hal konyol dan mulai berpose dengan cara yang lebih baik. Pasangan-pasangan ilegal yang sebelumnya asyik berciuman juga menyadari keberadaan Ceremi dan memutuskan untuk pergi dengan lebih sopan.

“Aku tidak percaya ini bisa terjadi!” pikir Ceremi dengan rasa bangga. Dia merasa terlahir kembali, bukan hanya sebagai cermin, tetapi sebagai simbol perubahan.

Seiring berjalannya waktu, Ceremi terus berupaya memberikan pesan positif kepada pengunjung. Mal yang dulunya penuh dengan aib dan kesalahan kini berubah menjadi tempat yang lebih baik. Semua orang mulai menghargai satu sama lain dan diri mereka sendiri.

Di dalam hatinya, Ceremi tahu bahwa dia bukan hanya cermin, tetapi juga suara bagi semua yang tidak memiliki keberanian untuk berbicara. Dia mengubah pandangan orang-orang tentang apa yang seharusnya dilakukan di depan cermin—bukan sekadar refleksi fisik, tetapi juga cermin bagi jiwa dan kepribadian yang sebenarnya.

Akhirnya, Ceremi menemukan makna baru dalam keberadaannya. Dia bukan hanya saksi dari aib, tetapi juga pelopor dari perubahan positif. Sekarang, dia siap untuk terus mencerminkan keindahan dan kebaikan yang ada dalam diri setiap orang yang berdiri di depannya.


 

Comments

Popular posts from this blog

Salah

Cerita Senja